Bedah Buku: "Sumiyati, Srikandi Perubahan, Inspirasi Bagi Perempuan"

Ibu Sumiyati sedang bercerita kisah hidupnya (foto:  Humas PKN STAN)

Tangerang Selatan, 28 April 2025

Politeknik Keuangan Negara STAN telah melaksanakan Bedah Buku Biografi Profesional yang berjudul Sumiyati, Srikandi Perubahan, Inspirasi bagi Perempuan pada hari Jumat, 25 April 2025 di Aula Gedung Nusantara Lantai 8, PKN STAN yang menghadirkan Ibu Sumiyati—narasumber utama dari buku tersebut, serta penulis buku, Robert Adhi KS. Acara ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kartini serta Hari Buku Sedunia. PKN STAN menyelenggarakan acara ini untuk memberikan inspirasi, motivasi, meningkatkan literasi informasi, mendorong budaya gemar membaca, serta menyebarkan nilai-nilai kegigihan, ketangguhan, dan resiliensi untuk para civitas di lingkungan PKN STAN.

Direktur PKN STAN, Evy Mulyani, membuka acara serta memberikan kata sambutan. Beliau menyampaikan bahwa Ibu Sumiyati memiliki kontribusi besar terhadap PKN STAN sewaktu menjabat selaku Kepala BPPK. Acara dipandu oleh MC Meisy Thiani, mahasiswa alih program Akuntansi Sektor Publik Program Sarjana Terapan. MC kemudian mempersilakan moderator, Vissia Dewi Haptari, seorang Dosen Lektor Prodi D-III Pajak PKN STAN, serta narasumber pada acara bedah buku yaitu Sumiyati, dan penulis buku, Robert Adhi Kusumaputra  untuk naik ke panggung.

Sumiyati lahir dalam keluarga dengan visi yang besar. Orang tua beliau menanamkan bahwa satu-satunya cara Sumiyati bisa memperbaiki kehidupannya adalah dengan sekolah. Ayahnya juga menekankan bahwa satu-satunya cara belajar adalah dengan membaca buku. Walau bukan keluarga yang berada, ayahanda tidak kunjung berhenti menyemangati Sumiyati agar selalu giat belajar demi mencapai impian. Sumiyati mengatakan bahwa saat kecil beliau bertekad untuk belajar mengenai keuangan. Dengan segala kekurangan dan kegigihan yang dimiliki, beliau akhirnya menjadi mahasiswa di STAN . Sumiyati juga menyampaikan bahwa kita harus mengenal diri kita, belajar kekurangan kita, mengisi gap tersebut, supaya bisa mengejar apa kekurangan yang kita miliki.

Robert Adhi, penulis buku biografi Sumiyati menyampaikan bahwa beliau sangat kagum dengan kegigihan Ibu Sumiyati. Berbicara dengan Sumiyati selama berjam-jam terasa sangat sebentar karena cerita hidup yang disampaikan sangatlah menarik. Sumiyati menceritakan bahwa semasa sekolah, beliau mengayuh sepeda sejauh 20 km pergi, lalu 20 km pulang setiap hari. Robert Adhi  tidak ragu dengan ketangguhan dan resiliensi dari Sumiyati. Beliau juga menyampaikan bahwa Sumiyati merupakan sosok yang sesuai untuk dikatakan sebagai Kartini modern. Di tengah kesibukannya, Sumiyati tetap memprioritaskan keluarganya, setiap pagi selalu tersaji makanan di meja makan keluarganya.

Hal menarik mengenai Sumiyati yang disampaikan oleh Robert Ardhi ialah beliau sangat menyukai membaca buku,  semua buku di perpustakaan desa tempat Sumiyati tumbuh besar telah habis beliau baca. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak di desa bukan memiliki minat baca yang rendah, namun akses baca yang terbatas. Sumiyati menambahkan bahwa bila saja uang negara tidak dikorupsi, akan tetapi disalurkan untuk pendidikan maka Indonesia sudah pastinya memiliki banyak generasi cerdas.

Sumiyati juga menyampaikan pandangan mengenai semangat Kartini. Ia melihat bahwa terlahir sebagai laki-laki atau perempuan itu bukan pilihan kita, melainkan kehendak dari Tuhan Yang Maha Esa. Masing-masing gender memiliki kodratnya sendiri. Perempuan sebagai pimpinan dapat mendedikasikan dirinya sepenuh hati tanpa meninggalkan kodratnya sebagai istri dan seorang ibu.

Dalam situasi di mana negara telah membuka kesempatan yang sama bagi perempuan dan laki-laki, alangkah baiknya perempuan Indonesia membangkitkan semangat R.A. Kartini serta harus menggunakan situasi ini sebaik-baiknya. Perempuan memiliki keunggulan, kecerdasan, serta kemampuannya sendiri, tidak harus bersaing dengan laki-laki. Walaupun perempuan berkarir setinggi apapun, tetapi saat di rumah, keutuhan keluarga tidak boleh ditinggalkan, tidak boleh dikesampingkan. “Satu hal yang penting, kita tidak berkompetisi dengan suami, kita saling membantu, saling mendukung, tidak ada yang merasa superior, tidak ada yang merasa inferior.”

Peserta mengikuti acara bedah buku dengan penuh antusias. Begitu sesi tanya jawab, beberapa mahasiswa serta tenaga kependidikan menyampaikan pertanyaan baik untuk Sumiyati ataupun Robert Adhi. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 400 orang peserta, yang terdiri dari mahasiswa, dosen, serta para pegawai di lingkungan PKN STAN. (Claira)

Scroll to top